Minggu, 14 Desember 2014

Kelompok 2 (Masa Nifas Perubahan Sistem Endokrin, Sistem Kardiovaskuler, Sistem Hemotologi, Sistem Pernapasan.)

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Masa nifas merupakan suatu keadaan fisiologis dimana berlangsungnya pemulihan kembali yang dimulai dari persalinan selesai sampai kembali seperti sebelum hamil. Ini merupakan masa yang sulit bagi ibu yang baru bersalin. Sebagian besar organ-organ tubuh ibu mengalami involusi dan penyesuaian dari masa kehamilan, bersalin dan kesiapan untuk menyusui.
Beberapa hal yang berpengaruh pada masa nifas adalah penyesuaian sistem endokrin, sistem kardiovaskuler, sistem hemotologi, sistem pernapasan. Perubahan fisiologis yang terjadi jika masih dalam keadaan wajar. Patologis yang terjadi pada kedua sistem ini sangat berpengaruh berlangsungnya masa nifas. Pengenalan dini dan penanganan tepat akan menentukan prognosis ibu dan bayi.
B.       Rumusan Masalah
o    Bagaimana fisiologi ibu nifas pada sistem endokrin ?
o    Bagaimana fisiologi ibu nifas pada sistem kardiovaskuler ?
o    Bagaimana fisiologi ibu nifas pada sistem hematologi ?
o    Bagaimana fisiologi ibu nifas pada sistem pernapasan ?
C.      Tujuan
a.         Agar mahasiswa dapat mengetahui fisiologi ibu nifas pada sistem endokrin.
b.        Agar mahasiswa dapat mengetahui fisiologi ibu nifas pada sistem kardiovaskuler.
c.         Agar mahasiswa dapat mengetahui fisiologi ibu nifas pada sistem hematologi.
d.        Agar mahasiswa dapat mengetahui fisiologi ibu nifas pada sistem pernapasan.



BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1  Perubahan Sistem endokrin
2.1.1 Pengertian sistem endokrin
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ yang fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung kedalam aliran darah.
2.1.2 Perubahan sistem endokrin
Keadaan hormone plasenta menurun dengan cepat,hormone plasenta laktogen tidak dapat terdeteksi dalam 24 jam post partum,hormone HCG menurun dengan cepat,estrogen turun sampai 10%.
Hormon pituary menyebabkan prolaktin meningkat dengan cepat selama kehamilan,wanita yang tidak laktasi prolaktin menurun sampai keadaan sebelum hamil dapat dipengaruhi seberapa banyak ibu menyusui.
Hipolamik pituari ovarium mempengaruhi untuk seluruh wanita,menstruasi pertama sering menurut siklus anovulasi atau siklus yang diasosiasikan dengan ketidak cukupan fungsi korpus luteum.diantara wanita laktasi,15% memperoleh menstruasi setelah 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu.
Adanya perubahan dari hormone plasenta yaitu estrogen dan progesterone yang menurun. Hormon-hormon pituitary mengakibatkan prolaktin meningkat,FSH menurun,dan LH menurun. Produksi asi mulai pada hari ke 3 post partum yang mempengaruhi hormone prolaktin,oksitosin,reflek letting down dan reflek sucking. Selama proses persalinan terdapat perubahan pada system endokrin. Hormon-hormon yang berperan pada proses tersebut antara lain :
a.       Hormon plasenta
Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan hormone yang diproduksi oleh plasenta. Hormone plasenta menurun dengan cepat pasca persalinan. Penurunan hormon plasenta menyebabkan kadar gula menurun pada masa nifas. HCG(Human Chorionic Gonadotropin) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke 7 post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke 3 post partum.
b.      Hormone Pituitary
Hormone pituitary antara lain : hormone prolaktin, FSH dsn LH. Hormone prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. Hormone prolaktin berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke 3 dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
c.       Hipotalamik Pituitary Ovarium
Hipotalamik pituitary ovarium akan mempengaruhi lamanya mendapatkan menstruasi pada wanita yang menyusui maupun yang tidak menyusui. Pada wanita yang menyusui mendapatkan menstruasi pada 6 minggu pasca melahirkan berkisar 16 % dan 45 % setelah 12 minggu pasca melahirkan. Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, akan mendapatkan menstruasi berkisar 40% setelah 6 minggu pasca melahirkan dan 90% setelah 24 minggu.
d.      Hormon oksitosin
Hormone oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang, bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalinan, hormone oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin, sehingga dapat membantu involusi uteri.
e.       Hormone estrogen dan progesterone
Volume darah normal selama kehamilan, akan meningkat. Hormone estrogen yang tinggi akan memperbesar hormone antidiuretik yang dapat meningkatkan volume darah. Sedangkan hormone progesterone mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva serta vagina.
Selama kehamilan normal kelenjar hipofisis akan membesar ± 135%. Akan tetapi, kelenjar ini tidak begitu mempunyai arti penting dari kehamilan. Pada perempuan yang mengalami hipofisektomi persalinan dapat berjalan dengan lancar. Hormon prolaktin akan meningkat 10x lipat pada saat kehamilan aterm. Sebaliknya, setelah persalinan konsentrasinya pada plasma akan menurun. Hal ini juga ditemukan pada ibu-ibu yang menyusui.
Kelenjar tiroid akan mengalami pembesaran hingga 15,0 ml pada saat persalinan akibat dari hiperplasia kelenjar dan peningkatan vaskularisasi. Pengaturan konsentrasi kalsium sangat berhubungan erat dengan magnesium, fosfat, hormon paratiroid, vitamin D, dan kalsitonin. Adanya gangguan pada salah satu faktor itu akan menyebabkan perubahan pada yang lainnya. Konsentrasi plasma hormon paratoid akan menurun pada trimester pertama dan kemudian akan meningkat secara progresif. Aksi yang penting dari hormon paratirod ini adalah untuk memasok janin dengan kalsium yang adekuat. Selain itu, juga diketahui mempunyai peran dalam produksi peptida pada janin, plasenta, dan ibu. Pada saat hamil da menyusui dianjurkan untuk mendapat asupan vitamin D 10 µg atau 400 IU¹.
Kelenjar adrenal pada kehamilan normal akan mengecil, normal akan mengecil, sedangkan hormon androstenedion, testosteron, diokikortikosteron, aldostreron, dan kortisol akan meningkat. Sementara itu, dehidroepiandrosteron sulfat akan menurun.

2.2  Perubahan sistem kardiovaskuler
2.2.1 Pengertian
Sistem kardiovaskuler atau peredaran darah adalah suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel.




2.2.2 Perubahan sistem kardiovaskuler
Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar estrogen, volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin kembali normal pada hari ke-5.
Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang sangat besar selama masa nifas, namun kadarnya masih tetap lebih tinggi dari pada normal. Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dan dengan demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah dengan penanganan yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini.
Volume darah normal yang diperlukan plasenta dan pembuluh darah uterin, meningkat selama kehamilan. Diuresis terjadi akibat adanya penurunan hormon estrogen, yang dengan cepat mengurangi volume plasma menjadi normal kembali.
Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urine. Hilangnya progesteron membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma selama persalinan.
Kehilangan darah pada persalinan per vaginam sekitar 300-400 cc, sedangkan kehilangan darah dengan persalinan SC menjadi dua kali lipat. Perubahan yang terjadi terdiri dari volume darah dan hemokonsentrasi. Pada persalinan pervaginam, hemokonsentrasi akan naik dan pada persalinan SC hemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.
Pasca melahirkan shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita vitum cordia. Hal ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Pada umumnya, hal ini terjadi pada hari ketiga sampai kelima post partum.
Tiga perubahan fisiologi pascapartum yang melindungi wanita:
  1. Hilangnya sirkulasi uteroplasenta yang mengurangi ukuran pembuluh darah maternal 10% sampai 15% .
  2. Hilangnya fungsi endokrin plasenta yang menghilangkan stimulus vasolitasi.
Terjadinya mobilisasi air ekstravaskuler yang disimpan selama wanita hamil.
Contohnya : Curah Jantung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan, keadan ini meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60 menit karena darah yang biasanya melintasi sirkulasi uteroplasenta tiba-tiba kembali kesirkulasi umum.
2.3  Perubahan Sistem Hematologi
2.3.1  Pengertian
Ilmu yang mempelajari sistem darah serta jaringan yang membentuk darah.
2.3.2 Perubahan sistem hematologi
Pada ibu masa nifas 72 jam pertama biasanya akan kehilangan volume plasma daripada sel darah, penurunan plasma ditambah peningkatan sel darah pada waktu kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3-7 setelah persalinan.
Jumlah sel darah putih (leukosit) selama 10-12 setelah persalinan umumnya berkisar antara 20.000-25.000/mm, faktor pembekuan darah akan terjadi ekstensif setelah persalinan yang bersama dengan pergerakan, trauma atau sepsis bisa menyebabkan trombo emboli. Keadaan produksi tertinggi dan pemecahan fibrin mungkin akibat pengeluaran tempat pelepasan plasenta.
Pada masa hamil didapat hubungan pendek antara sirkulasi ibu dan plasenta kemudian setelah melahirkan akan hilang dengan tiba-tiba, volume darah ibu relatif bertambah sehingga beban jantung bertambah menyebabkan dekompensasi kordis pada penderita-penderita vitium kordis. Diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi maka volume darah kembali seperti sediakala ini terjadi pada hari ke 3 ke 15 postpartum.
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan kadar fibrinogen dan plasma serta faktor – faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama postpartum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leokositosis adalah meningkat  jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama dari masa postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi sampai 25.000 atau 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Jumlah hemoglobine, hematokrit dan eritrosit akan sangat bervariasi pada awal postpartum disebabkan dari volume darah, volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Tingakatan ini dipengaruhi oleh status gizi wanita tersebut. Jika hematokrit dari hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik 2 % atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan awal, maka pasien dianggap telah kehilangan darah yang cukup banyak. Titik 2% kurang lebih sama dengan kehilangan darah 500 ml darah.
Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3 sampai ke 7 post partum dan akan normal dalam 4-5 minggu post partum. Jumlah kehilangan darah selama masa persalinan kurang lebih 200-500 ml, minggu pertama post partum berkisar 500-800ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500ml.

2.4  Perubahan Sistem Pernapasan

images
2.4.1        Pengertian
Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen(O2), serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida(CO2) sebagai sisa dari oksidasi keluar tubuh.
2.4.2 Perubahan Sistem Pernafasan
            Selama kehamilan sirkumferensia torak akan bertambah ±6cm, tetapi tidak mencukupi penurunan kapasitas residu fungsional dan volume residu paru-paru karena pengaruh diafragma yang naik ±4cm selama kehamilan.Frekuensi pernafasan normal pada orang dewasa adalah 16-24 kali per menit. Pada ibu post partum umumnya pernafasan lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran nafas. Bila pernafasan pada masa post partum menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda syok. Perubahan ini akan mencapai puncaknya pada minggu ke 37 dan akan kembali hampir seperti sediakala dalam 24 minggu setelah persalinan.
a.       Suhu badan
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat Celcius. Pasca melahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal. Kenaikan suhu badan ini akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari ke-4 post partum, suhu badan akan naik lagi. Hal ini diakibatkan ada pembentukan ASI, kemungkinan payudara membengkak, maupun kemungkinan infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun sistem lain. Apabila kenaikan suhu di atas 38 derajat celcius, waspada terhadap infeksi post partum.
b.         Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Pasca melahirkan, denyut nadi dapat menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit, harus waspada kemungkinan infeksi atau perdarahan post partum.









Tindakan Bidan :
Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas antara lain sebagai berikut :
1.      Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologisselama masa nifas.
2.      Sebagai promotor antara hubungan ibudan bayi serta keluarga.
3.      Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
4.      Membuat kebijakan perncanaan  program kesehatan yang berkaitan dengan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
5.      Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
6.      Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya , menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
7.      Melakukan manajemen asuhan dengan vara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode  nifas.
8.      Memberikan asuhan secara profesional











BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Masa nifas adalah masa setelah lahirnya hasil konsepsi sampai pulihnya organ reproduksi seperti sebelum hamil, pada masa ini banyak terjadi perubahan yang di alami oleh wanita postpartum pada sistem endokrin terjadi perubahan peningkatan dan penurunan hormon – hormon, pada sistem kardiovaskuler terjadi perubahan pada volume darah dan curah jantung, pada sistem hematologi terjadi perubahan pembekuan sel-sel darah, sedangkan cepat lambatnya sistem pernapasan di pengaruhi oleh suhu dan nadi. Perubahan-perubahan tersebut ada yang bersifat fisiologis dan patologis. Oleh karena itu, tenaga kesehatan terutama bidan harus memahami perubahan-perubahan tersebut agar dapat memberikan penjelasan dan intervensi yang tepat kepada pasien.
3.2  Saran
  1. Keluarga
Bagi suami maupun keluarga diharapkan agar lebih aktif, turut serta dalam menjaga kesehatan ibu. Dan dapat memberikan dukungan secara  psikis maupun moril terhadap ibu yang menghadapi masa post partum.Mendukung kinerja pemerintah dalam menurunkan AKI.
  1. Tenaga kesehatan
Bagi tenaga kesehatan, khususnya bidan di harapkan agar meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan asuhan kebidanan, serta lebih peka untuk mengidentifikasi tanda bahya dalam persalinan agar dapat segera di tangani. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar