Selasa, 02 Desember 2014

KELOMPOK 24 (PENCEGAHAN INFEKSI)



KATA  PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat serta Hidayah-Nya, sehingga makalah Askeb Neonatus mengenai Pencegahan Infeksidapat kami susun.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Askeb Neonatusdengan dosen pembimbingBinti Fudliyah,SST.Selain itu juga diharapkan bisa memberikan wawasan kepada rekan-rekan mahasiswa khususnya mahasiswa D3 Kebidanan Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Dalam kesempatan ini kami selaku penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu memberi bimbingan, ilmu, dorongan, serta saran-saran kepada penyusun.
 Kami selaku penyusun menyadari sepenuhnya bahwa isi maupun penyajian makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amien

                                                            Jakarta, 31 Oktober2014

                                    Penyusun










PENDAHULUAN
1.1.         Latar Belakang
Masyarakat yang menerima pelayanan medis dan kesehatan, baik di rumah sakit atau klinik, dihadapkan kepada resiko terfeksi kecuali kalau dilakukan kewaspadaan untuk mencegah terjadinya infeksi.
Persalinan aman dan bersih merupakan salah satu pilar safe motherhood.Bersih artinya bebas dari infeksi.Infeksi dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas merupakan penyebab utama kedua dari kematian ibu dan perinatal. Persalinan terjadi di rumah sakit atau rumah  bersalin yang telah menjalankan praktik pencegahan infeksi dengan baik. Dengan demikian, infeksi nosokomial atau dengan organisme yang kebal terhadap banyak obat menjadi rendah.
Pencegahan infeksi merupakan bagian terpenting dalam dan dari setiap komponen perawatan BBL. Pencegahan yang dilakukan antara lain adalah imunisasi maternal (tetanus, rubella, varisela, hepatitis B). Dengan demikian risiko infeksi bayi baru lahir dapat di minimalkan.

1.2.         Rumusan Masalah
Dengan demikian dapat di rumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian pencegahan infeksi?
2.        Bagaimana carapencegahan infeksi?
3.        Bagaimana proses perawatan bayi baru lahir agar tidak terkena infeksi?
4.      Apa yang dimaksud dengan infeksi?
5.      Apa saja macam infeksi?
6.        Bagaimana tanda – tanda infeksi pada neonatus bayi dan balita?
7.        Cara pencegahan infeksi pada neonatus bayi dan balita?

1.3.         Tujuan
1.      Memahami dan mengerti mengenai pencegahan infeksi.
2.      Mengetahui cara dan proses dalam pencegahan infeksi.
3.        Mengetahui cara perawatan bayi baru lahir agar tidak terkena infeksi.
4.      Agar kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan infeksi
5.      Agar kita dapat mengetahui macam – macam infeksi
6.        Agar kita dapat mengetahui tanda – tanda infeksi pada neonatus bayi dan balita
7.        Agar kita dapat mengetahui cara pencegahan terhadap infeksi pada neonatus, bayi dan balita.



















BAB II
PEMBAHASAN

1.  TINJAUAN TEORI
      Iinfeksi pada bayi cepat sekali meluas. Infeksi BBL lebih sering ditemukan di RS daripada di rumah, dari ibu, petugas kesehatan, (dokter atau perawat) dan petugas kesehatan yang lain jga pengunjung yang datang keruangan.
Macam – macam infeksi pada neonates:
a.       Tetanus neonatorum
b.      CMV
c.       Virus herpes simplex.
Penyebab :
Infeksi neonatus dapat melalui beberapa cara blane (1961) dan dibagi dalam 3 golongan yaitu :
1.      Infeksi intranatal
Kuman dari vagina naik dan masuk dalam rongga amnion setelah ketuban pecah.Infeksi dapat terjadi walaupaun ketuban masi utuh.Misalnya pada partus lama dan sering dilakukan pemeriksaan dalam.Janin terkena infeksin karena inhalasi likuor yang septik sehingga terjadi pneumonia congenital/karena kuman memasuki peredaran darahnya dan menyebabkan seplikerta.Infeksi inranatal dapat juga dengan jalan kontak langsung dengan kuman yang terdapat dalam vagina mis blenorea.

2.      Infeksi antenatal
Kuman mencapai janin melalui peredaran darah ibu ke plaseta dan selanjutnya infeksi melalui sirkulasi umbilikus masuk ke janin.

3.      Infeksi pascanatal
Infeksi terjadi sesuda bayi lahir lengkap, infeksi terjadi akibat penggunaan alat-alat perawatan yang tidak steril atau karena cross intection.









CARA PENULARAN MIKROORGANISME
Proses penyebaran rnikroorganisme ke dalam tubuh, baik pada manusia maupun hewan, dapat meialui berbagai cara, di antaranya:
1.      Kontak Tubuh. Kuman masuk ke dalam tubuh melalui proses penyebaran secara langsung, maupun tidak langsung.
2.      Makanan dan minuman
3.       Serangga
4.      Udara

FAKTOR YANG MEMENGARUHI PROSES INFEKSI
a.       Sumber Penyakit
Sumber penyakit dapat memengaruhi apakah infeksi berjalan cepat atau lambat.

b.      Kuman penyebab
Kuman penyebab dapat menentukan jumlah mikroorganisme, kemampuan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh, dan virulensinva.

c.       Cara Membebaskan Sumber dari Kuman
kuman dapat menentukan apakah proses infeksi cepat/lambat, seperti tingkat keasaman (pH), suhu, dll.

d.      Cara Penularan
Cara penularan seperti kontak melalui makanan atau udara, dapat menyebabkan penyebar.

e.       Cara Masuknya Kuman.
Proses penyebaran tergantung dari sifatnya. Kuman dapat masuk melalui pernapasan, saluran pencernaan, kulit, dan lain-lain.

f.       Daya Tahan Tubuh
Daya tahan tubuh yang baik dapat memperlambat proses infeksi atau mempercepat proses penyembuhan.

Diagnosis infeksi tidak mudah karena tanda khas seperti yang terdapat pada bayi lebih tua sering kali tidak ditemukan, diagnosis dapat dibuat dengan pengamatan yang cermat.
Diagnosis ini dapat dibuat apabila terdapat kelainan tingka laku bayi dapat merupakan tanda – tanda permulaan infeksi umum.
Tada infeksi pada bayi biasanya tidak khas sperti yang terdapat pada bayi yang lebih tua, ada beberapa gejala yaitu :
a.       Malas minum
b.      Gelisa
c.       Frekuensi pernafasan meningkat
d.      Berat badan turun
e.       Pergerakan kurang
f.       Munta
g.       Diare
h.      Odema
i.        Perdarahan, ikterus, kejang, suhu meningkat, normal atau kurang dari normal.


2. 1 Pencegahan Infeksi
Pencegahan Infeksi merupakan penatalaksanaan awal yang harus dilakukan pada bayi baru lahir karena bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi.Pada saat penanganan bayi baru lahir, pastikan penolong untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi.
Tindakan-tindakan pencegahan infeksi bayi baru lahir sbb.
1.      Mencuci tangan secara seksama sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan bayi
2.      Memakai sarung tangan bersih saat melayani bayi yang belum dimandikan
3.      Memastikan semua peralatan telah disterilkan
4.      Memastikan semua perlenkapan bayi dalam keadaan bersih,
5.      Memastikan semua alat-alat yang bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih,
6.      Menganjurkan ibu menjaga kebersihan diri, terutama payu dara,
7.      Membersihkan muka, pantat,dan tali pusat bayi dengan air bersih hangat dan sabun setiap hari,
8.      Menjaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi.
Upaya lain untuk mencegah infeksi sbb.
1.      Pencegahan infeksi pada tali pusat,
Upaya dilakukan dengan cara merawat tali pusat agar luka tersebut tetap bersih. Dilarang membubuhkan atau mengoleskan ramuan, abu dapur, dan sebagainya pada luka tali pusat sebab akan menyebabkan infeksi, tetanus, dan kematian. Tanda infeksi tali pusat yang harus di waspadai antara lain : kulit disekitar tali pusat berwarna kemerahan, ada pus/nanah dan berbau busuk.
2.      Pencegahan infeksi pada kulit,
Beberapa cara yang diketahui dapat mencegah terjadinya infeksi pada kulit bayi baru lahir adalah meletakkan bayi di dada ibu, agar terjadi kontak kulit langsung antara ibu dan bayi, sehingga menyebabkan terjadinya kolonisasi mikroorganisme ibu yang cenderung bersifat patogen, serta adanya zat antibodi bayi yang sudah terbentuk dan terkandung dalam ASI.
3.      Pencegahan infeksi pada mata bayi baru lahir,
Cara mencegah infeksi pada mata bayi baru lahir adalah dengan memberikan salep mata atau obat tetes mata dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir untuk mencegah oftalmia neonatorium, biarkan obat pada mata bayi dan obat yang ada disekitarnya jangan dibersihkan, keterlambatan memberikan salep mata pada bayi baru lahir merpakan seringnya kegagalan upaya pencegahan infeksi pada mata.

















4.      Imunisasi
Pada daerah risiko tinggi infeksi TBC , Imunisasi BCG harus segera di berikan pada bayi segera setelah bayi lahir, pemberian dosis pertama tetesan polio dianjurkan pada umur 2 minggu, maksud pemberian imunisasi polio secara dini adalah untuk meningkatkan perlindungan awal, imunisasi hepatitis B sudah merupakan program nasional meskipun pemberiannya secara bertahap.
Tanda bahaya bayi dengan satu atau
lebih tanda berikut ini perlu di rujuk ke dokter
· Sulit menyusui
· Litargi ( tidur terus sehingga tidak menyusu)
· Demam atau hipotermia
· Tidak BAB selama 3 hari ( kemungkinan anus tidak mempunyai lobang
· Sianosis pada kulit atau bibir
· Ikterus berat
· Muntah terus menerus
· Muntah dan perut membesar
· Kesulitan bernafas
· Perilaku tangis yang tidak normal
· Mata bengkak dan bernanah/ berair
· Mekonium cair berwarna hijau gelap dengan lendir/darah







2. 2 Prinsip Dasar
          Amati prakte-praktek di bawah ini untuk melindungi bayi, ibu da petugas kesehatan terhadap infeksi. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegah penyebaran infeksi :
·         Setiap orang (pasien dan petugas pelayanan kesehatan ) harus dianggaap berpotensI menularkan infeksi
·         Cuci tangan adalah prosedur yang paling praktis dalam mencegah kontaminasi langsung
·         Pakailah sarung tangan sebelum menyentuh setiap kulit yang luka, selaput lendir ( mukosa ), darah dan cairan tubuh lainnya ( secret )
·         Gunakan pelindung ( barier ) seperti kacamata ( goggles ), makes celemek ( apron ) pada setiap kali yang melakukan kegiatan pelayanan yang diantisipasi dapat terkena percikan atau terkena darah dan cairn tubuh pasien
·         Selalu melakukan tindakan/prosedur menurut langkah yang aman seperti tidak membengkokkan jarum dengan tangan, memegang alat medik dan prosesnya dengan benar, membuang proses samppah medik dengan benar
·         Bersihkan dan bila perlu lakukan disinfeksi peralatan dan barang yang digunakan sebelum daur ulang
·         Bersihkan ruang perawatan pasien secara rutin
·         Letakkan bayi yang mungkin dapat mengkontaminasi lingkungan ( misalnya bayi dengan diare yang terinfeksius ) di dalam ruangan khusus




2. 3 Cuci Tangan
a.       Cuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan cairan pembersih tangan berbasis alkohol :
§  Sebelum dan sesudah merawat bayi serta sebelum melakukan tindakan
§    Sesudah melepas sarung tangan
§  Sesudah memegang instrument atau barang yang kotor
b.      Beri petunjuk pada ibu dan anggota lainnya untuk cuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi

Cara cuci tangan :
§  Basahi kedua tangan
§  Cuci tangan selama 10-15’ dengan sabun dan air mengalir
§  Biarkan tangan kering di udara atau keringkan denga kertas bersih atau handuk pribadi
·         Membersihakn tangan dengan caiaran pembersih berbasis alkohol ( dibuat dari 2 ml gliserin dan 100 ml alkohol 60 % ), lebih efektif dibanding dibanding dengan cuci tangan, kecuali kalua tangan memeang kelihatan kotor. Cara membersihkan tangan dengan memakai cairan pembersih tangan berbasis alkohol :
§  Basahi seluruh permukaan tangan dan jari dengan cairan pembersi tangan
§  Basuh dan gosokkan cairan ketangan sampai kering















2. 4 Perlengkapan Perlindungan Mandiri
Cegah paparan terhadap infeksi denga menggunakan barier atau pelindung untuk melindungi diri dari semburan dan jejkas dari benda tajam.
·         Bila mungkin pakai sepatu tertutup, jangan telanjang kaki.
·         Bila sarung tangan diperlukan tindakan, gunakan sepasang sarung tangan untuk tiap bayi guna menghindari kontaminasi silang dan buanglah sarung tangan yang sudah kotor. Gunakan sarug tangan yang berbeda untuk setiap situasi :
§  Sarung tangan steril atau sarung tangan desinfeksi tinggi bila memegang atau kontak langsung dengan kulit lecet, jaringan dibawah kulit atau darah
§  Sarung tangan yang bersih bila ada kontak dengan membrane mukosa atau cairan tubuh ( misalnya mengambil sample darah )
§  Sarung tangan tebal dari bahan karet atau lateks untuk memegang barang yang terkontaminasi serta akan membersihkan atau membuang kotoran
·         Sarung tangan sekali pakai sangat dianjurkan, tetapi dibeberapa tempat karena keterbatasan sarana sarung tangan untuk tindakan bedah dapat dipakai ulang setelah :
§  Dilakukan dekontaminasi direndam dalam larutan klorin selam a10 menit
§  Cuci dan bilas
§  Disterilkan dengan autoklaf ( membunuh organisme ) atau desinfeksi tingkat tinggi dengan direbus atau dikukus ( membunuh organisme kecuali beberapa endospora )
§  Catatan: bila sarung tangan bedah dipakai ulang, tidak boleh lebih dari tiga kali karena dikhawatirkan terjadi robekan yang tidak dapat terlihat








2. 5 Perawatan Secara Umum
Petunjuk untuk mwengurangi risiko infeksi pada bayi sesudah lahir adalah sebagai berikut :
·         Gunakan sarung tangan dan celemek plastik atau karet waktu memegang BBL sampai dengan kulit bayi bersih dari darah, mekonium dan cairan
·         Bersihkan darah dari cairan tubuh bayi lainnya dengan menggunakan lapas yang direndam air hangat kemudian dikeringkan
·         Bersihkan pantat dan daerah sekitar anus bayi etiap selesai mengganti popok atau setiap diperlukan dengan menggunakan kapas yang direndam air hangat, air larutan sabun dan kemudian keringkan dengan hati-hati
·         Gunakan sarung tangan waktu merawat tali pusat
·         Ajari ibu werawat payudara dan bagaimana cara mengurangi trauma pada payudara dan putting agar tidak terjadi mastitis

2. 6 Teknik Aseptik Untuk Melakukan Tindakan
Teknik aseptik membuat tindakan lebih aman bagi BBL maupun tenaga kesehatan dengan mengurangi atau menghilangkan organisme dikulit, jaringan atau benda mati ketingkat lebih aman. Meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
·         Cuci tangan selama 3-5 menit dengan menggunakan sekat yang lembut dan sabun antiseptic
·         Kenakan sarung tangan steril atau sarung tangan yang DTT
·         Siapkan kulit untuk dilakukan tindakan dengan mencuci dengan menggunakan cairan antiseptik dengan gerakan melingkar, gerakan dari sentral keluar seperti membentuk spiral
·           Bila ragu-0ragu apakah peralatannya terkontaminasi atau tidak, anggaplah saja terkontaminasi




2.7 Cairan Antiseptik dan Desinfektan
Meskipun kedua istilah ini sering tertukar, cairan anti septic dan cairan desinfektan masing-masing mempunyai manfaat yang berbeda.Cairan antiseptic digunakan untuk kulit dan biasanya tidak sekuat desinfektan.Desinfektan digunakan dekontaminasi alat atau bahan yang terkontaminasi derajat tinggi.

Cara mencegah kontaminasi cairan antiseptic dan desinfektan :
·         Bila perlu pengenceran, hanya menggunakan air yang dimasak.
·         Jaga jangan sampai mulut botol besar tempat cairan terkontaminasi waktu menuangkan cairan kedalam botol/tempat yang lebih kecil.
·         Kosongkan dan cuci tabung dengan sabun dan air kemudian keringkan di udara terbuka paling tidak seminggu.
·         Tuangkan cairan antiseptic keatas gulungan kapas atau kain kasa, jangan mencelupkan kapas/kain kasa kedalam caian antiseptk.
·         Simpan caira ditempat dingn dan gelap














2.8 Pembersihan dan Pembuangan Tempat Sampah
Membersihkan secara teratur dan teliti akan mengurangi mikro organisme dipermukaan dapat mencegah infeksi dan luka.
·         Setiap perawatan BBL harus mempunyai jadwal membersihkan.
·         Ikuti petunjuk membersihkan.
·         Yakinkan selalu tersedia ember bersih yang berisi cairan clorin 0,5% atau cairan local yang ada atau cairan pembersih yang aman.
·         Segera bersihkan darah dengan menyemprot cairan clorin 0,5%. Bungkus dan tutup dengan kain linen yang bersih dan simpan dalam lemari tertutup untuk mnghindari kontaminasi dengan debu.

Ø  Sesudah digunakan, basuh tempat tidur, meja, dan troli untuk tindakan menggunakan cairan pembersih dengan larutan clorin 0,5% atau cairan diterjen.
·         Lantai dan permukaan yang horizontal harus dibersihkan setiap hari atau sesuai dengan kebutuhan dengan cairan pembersih larutan clorin 0,5%  dan cairan diterjen.
·         Pisahkan cairan yang terkontaminasi misalnya darah, nanah, dan barang yang kotor dari beda yang tidak tekontaminasi dan bakarlah.
·         Yakinkan bahwa barang tajam yang terkontaminasi telah dibakar dan dikubur.










2.9 Cara Lain Pencegahan Infeksi
·         Ruang perawatan resiko di lokasi diare yang tidak terlalu banyak dilewati orang dan jalur masuknya terbatas.
·         Bila mungkin, sediakan ruangan khusus dan bayi baru lahir yakinkan bahwa tenaga yang berhubungan langsung dengan BBL telah di imunisasikan rubella, campak, hepatitis B, dan parotitis serta mendapat vaksin influenza setiap tahun.
·         Tenaga yang mempunyai lesi atau infeksi kulit tidak boleh dating dan berhubungan langsung dengan bayi baru lahir.
·         Pengunjung atau staf yang sedang menderita infeksi akut, misalnya virus pernafasan tidak diperbolehka masuk ke ruangan perawatan bayi resiko tinggi.
·         Hindari staf yang berlebih atau staf yang kurang. Jangan meletakkan dua bayi dalam boks dan incubator yang sama.
·         Batasi jumlah tenaga yang menangani bayi.
Virus-sitomegalo virus, enterovirus, respiratory sincytial virus dan rhinovirus.














2.10 Infeksi Janin dan Bayi Baru Lahir
Infeksi janin dan bayi baru lahir diklasifikasi atas dasar :
1.      In utero (transplacenta).
2.      Sewaktu melalui jalan lahir (transmisi vertical)
3.      Pada masa neonatal (yaitu dalam 28 hari ertama setelah melahirkan)

Infeksi in utero termasuk yang disebabkan oleh :
§  Virus-sitomegalovirus, rubella, varisela,HIV, dan parovirus.
§  Protozoa-toksoplasmosis gondii, dan
§  Bakteri-sifilis congenital.

Intrapartum(ibu ke bayi baru lahir) dan infeksi bayi baru lahir pasca persalinan termasuk yang disebabkan oleh ;
      Virus hepatitis B, hepatitis C, HIV, Virus herpes simpleks (HSV), human papiloma virus dan parovirus.
      Bacteria-E.coli, group streptococcus, jamur (species candida) konjungtivitis karena klamidia; gonorea, atau listeria monositogenes, dan sejumlah hasil anaerob grand negative.

Infeksi bayi baru lahir selama bulan pertama, termasuk :
§  Protozoa-malaria banyak dinegara tropis dan
§  Bacteria-tuberculosis dan tetanes.
                                  









2.11 Pencegahan Penyakit Infeksi Janin dan Bayi Baru Lahir
Pencegahan telah lama menjadi satu satunya alternative dalam memerangi penyakit infeksi baya baru lahir. Selama 50 tahun terakhir ini upaya pencegahan berhasil mengurangi resiko infeksi janin dan bayi baru lahir di Negara-negara berkembang.keberhasilan ini telah dilaksanakan melalui :
§  Imunisasi maternal (tetanus, rubella, varisella, dan hepatitis B).
§  Pengobatan antenatal sifilis maternal, gonorhoe, klamidea.
§  Penggunaan profilaksia obat tetes mata postnatal  untuk mencegah infelsi mata (konjungtivitis) karena klamidea, gonorhoe dan jamur (kandida).
§  Pengobatan profilaksis perempuan hamil yang beresiko terhadap penyakit groupB streptococcus.
§  Pengobatan dengan anti retroviral (ARV) maternal (antenatal dan intrapartum) dan bayi baru lahir (post natal) untuk mencegah HIV.

2.12 Perawatan Postnatal Bayi Baru Lahir
Meminimalkan resiko infeksi bayi baru lahir dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
§  Pakai sarung tangan dan apron plastic atau karet kalau menangani bayi sampai darah, mekonium atau cairan amnion dibersihkan dari kulit bayi.
§  Bersihkan darah dan cairan tubuh lainnya secara berhati-hati dengan menggunakan kapas, bukan kasa yang dicelupkan kedlam air hangat diikuti dengan pengeringan kulit.
§  Cuci tangan sebelum memegang atau merawat bayi. Alternatifnya  dapat menggunakan produk antiseptic berbasis alcohol tak berair.
§  Tunda membersihkan bayi baru lahir sampai suhunya stabil ( biasanya 6 jam). Yang sangat penting adalah area pantat dan perineal. Area ini harus selalu dibersihkan pada setiap penggantian popok, atau sesering yang diperlukan, dengan menggunakan kapas yang dicelupkan kedalam air sabun hangat, kemudian dikeringkan dengan hati-hati.
§  Gaun penutup atau masker tidak diperlukan sewaktu menangani bayi.
§  Tidak ada satu perawatan tali pusat yang terbukti superior dalam mencegah kolonisasi atau infeksi.



Secara umum adalah :
§  Cuci tangan , atau pakai anticeotik pencuci tangan sebelum dan sesudah perawatan tali pusat.
§    Tali pusat harus selalu bersih dan kering.
§  Jangan tutupi tali pusat dengan gurita.
§  Diaper/ popok dilipat dibawah puntung tali pusat.
§  Jika puntung tali pusat kotor, hati-hati cuci dengan air matang yang diberi sabun, bersihkan dengan air matang, keringkan dengan kain bersih.
§  Jelaskan pada ibu, jika puntung tali pusat menjadi merah atau bernana, bawa bayi ke klinik atau rumahsakit secepatnya.

            PENCEGAHAN

I.            Pencegahan infeksi pada tali pusat

Upaya ini lakukan dengan cara merawat tali pusat yang berarti menjaga agar luka tersebut tetap bersi, tidak terkena air kencing, kotoran bayi atau tanah. Pemakaian popok bayi diletakan disebelah bawah tali pusat.Apabila tali pusat kotor, cuci luka tali pusat dengan air bersih yang mengalir dan sabun, segera dikeringkan kain kasa kering dan dibungkus dengan kasa tipis yang steril dan kering. Dilarang membubukan atau mengoleskan ramuan abu dapur dan sebagainya pada luka tali pusat, sebab akan menyebabkan infeksi dan tetanus yang dapat berakhir dengan kematian neonatal. Tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai, antara lain kulit sekitar tali pusat berwarna kemerahan, nanah dan berwarna busuk. Mengawasih dan segera melaporkan kepada dokter, jika tali pusat ditemukan pendarahan, pembebakan, keluar cairan tampak merah atau berbau busuk.

II.            Pencegahan infeksi pada kulit

Beberapa cara yang diketahui dapat mencega terjadinya infeksi pada kulit bayi baru lahir atau penyakit infeksi lain adalah meletakan bayi didada ibu agar terjadi kontak langsung ibu dan bayi sehingga mengyebabkan kolonisasi mikro organisme ada dikulit dan saluran pencernaan bayi dengan mikroorganisme ibu dan cenderung bersipat non patogen, serta adanya zat anti body bayi yang sudah terbentuk dan terkandung dalah air susu ibu.

III.            Pencegahan infeksi pada mata bayi baru lahir

Cara mencega infeksi pada mata bayi baru lahir adalah merawat mata bayi baru lahir dengan mencuci tangan terlebih dahulu, membersikan kedua mata bayi segerah setela lahir dengan kapas atau sapu tangan yang halus dan bersih yang telah dibersikan dengan air hangat. Dalam waktu satu jam setelah bayi lahir berikan salep atau obat tetes mata untuk mencegah optalmia neonatorium (tertrasilin 1%, eritrozin 0,5% atau nitras argensi) biarkan obat tetap pada mata bayi dan obat yang ada disekitar mata jangan dibersikan setelah selesai merawat mata bayi cuci tangan kembali. Keterlambatan memberikan salap mata misalnya bayi baru lahir diberikan salep mata setelah lewat 1 jam setelah lahir merupakan sebab tersering kegagalan upaya pencegahan infeksi pada mata bayi yang baru lahir

IV.            Tindakan pencegahan infeksi pada bayi secara umum
a.       Gunakan sarung tangan dan celemek plastik atau karet waktu memegang bayi baru lahir sampai dengan kulit dengan kulit bayi bersi dari darah dan cairan.
b.      Bersikan darah dan cairan tubuh bayi lainnya dengan menggunakan kapas yang direndam di dalam air hangat kemudian keringkan.
c.       Bersikan pantat dan daerah sekitar anus bayi setiap selesai mengganti popok.
d.      Gunakan sarung tangan waktu merawat tali pusat.
e.       Ajari ibu merawat payudara dan bagaimana cara mengurangi trauma pada payudara dan puting agar tidak terjadi mastitis.
f.       Rungan perawat bayi resiko diarea yang tidak terlazlu banyak dilewati orang dan jarungan masuknya terbatas.








BAB III
penutup
KESIMPULAN
Pencegahan infeksi membantu semua petugas pelayanan kesehatan rumah sakit dan penyelia klinik, untuk memahami prinsip-prinsip dasar pencegahan infeksi, termasuk siklus penyebaran penyakit dan konsep-konsep lainnya yang penting.
Pencegahan infeksi merupakan bagian terpenting dalam dan dari setiap komponen perawatan BBL. Pencegahan yang dilakukan antara lain adalah imunisasi maternal (tetanus, rubella, varisela, hepatitis B). Dengan demikian risiko infeksi bayi baru lahir dapat di minimalkan.

SARAN
      Dengan penulisan makala ini penulis berharap agar dapat menamba ilmu pengetahuan kepada pembaca oleh karena itu, harapa penulis kepada pembaca semua agar sudi kiranya memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar