Selasa, 02 Desember 2014

KELOMPOK 5 (Adaptasi BBl Perubahan Sistem Gastrointestinal)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 .Latar Belakang
Keadaan Bayi sangat bergantung pada pertumbuhan janin di dalam uterus, kualitas pengawasan antenatal, penyakit-penyakit ibu selama hamil, penaganan persalinan dan perawatan sesudah lahir. penaggulangan bayi tergantung pada keadaannya, apakah ia normal atau tidak. Diantara bayi yang normal dan yang membutuhkan pertolongan medik segera (sydroma gangguan pernafasan).
Adaptasi pada Bayi Baru Lahir merupakan proses penyesuaina fungsional neonataus dari kehidupan di dalam uterus ke keluar uterus. Bila terdapat gangguan pada adaptasi maka Bayi akan sakit.sedangkan pada Bayi yang kurang bulan terdapat gangguan mekanisme adaptasi. adaptasi segera adalah pada fungsi-fungsi vital yaitu gastroinestinal
Pada umumnya kelahiran Bayi normal cukup di hadiri oleh Bidan yang dapat di beri tanggung jawab penuh terhadap keselamatan Ibu dan Bayi pada persalinan normal.maka seorang Bidan harus mengetahui dengan segera timbulnya perubahan-perubahan pada ibu dan bayi.

1.2     Rumusan masalah
1.2.1        Apa pengertian tentang gastroinestinal ?
1.2.2        Apa yang di maksud dengan Adaptasi Bayi Baru Lahir Di luar uterus?
1.2.3        Perubahan-perubahan apa terjadi pada Bayi Baru Lahir ?
1.2.4        Apa perbedaan gastrointestinal pada bayi dan neonatal?
1.2.5        Apa yang dilakukan pada keadaan klinik bayi segera setelah lahir ?

1.3      Tujuan
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui proses adaptasi pada Bayi Baru Lahir terutama pada gastroinestinalnya.





BAB II
PEMBAHASAN

1.1  Pengertian Gastrointestinal
                                 Gastrointestinal adalah merupakan suatu saluran pencernaan yang panjangnya sekitar 9 meter mulai dari mulut sampai anus, meliputi oropharing, esophagus, stomach(lambung), usus halus dan usus besar. Di mulut makanan dikunyah dan dicampur dengan sekresi kelenjar saliva sehingga menjadi bolus. Esophagus mengantarkan bolus dari mulut ke stomach (lambung), Lambung, usus halus dan usus besar sebagai tempat penampung makan/bolus dan produk akhir dari pencernaan.
Lumen gastrointestinal secara umum memiliki lapisan mukosa, submukosa, lapisan otot. Sistem gastro intestinal dan organ accesoris memperoleh aliran darah sekitar 25 – 30 % dari cardiac out put. Saraf yang terlibat dalam mengendalikan sistem gastrointestinal melibatkan saraf autonom saraf parasimpatis dan simpatis.

2.2  Fungsi Secara Umum Sistem Gastrointestinal
      Fungsi secara umum sistem Gastrointestinal yaitu tarnsport air dan makanan, mencerna makanan secara mekanik dan kimia, mengabsorbsi nutrien hasil pencernaan ke dalam pembuluh darah, serta mengeluarkan produk sisa.Saluran gastrointestinal memberi tubuh persediaan akan air, elektrolit, dan makanan, yang terus-menerus. Untuk mencapai hal ini dibutuhkan :
1.      Pergerakan makan melalui saluran gastrointestinal
2.      Sekresi getah pencernaan dan makanan
3.      Absorbsi hasil pencernaan, air, dan berbagai elektrolit
4.       Sirkulasi darah melalui organ-organ gastrointestinal untuk membawa zat-zat yang di absorbsi
      5.Pengaturan semua fungsi ini oleh sistem saraf dan hormonal

2.3  Anatomi  Sistem Gastroinstestinal
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

A.    Mulut
index1.jpg
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus.
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah.
Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.
B.     Tenggorokan ( Faring)
index2.jpg
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk.

Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang.
  Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium. Tekak terdiri dari; Bagian superior =bagian yang sangat tinggi dengan hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga,Bagian media disebut orofaring,bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring gofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring.

C.    Kerongkongan (Esofagus)
kerongkongan.jpg 








Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani: οiσω, oeso - "membawa", dan έφαγον, phagus - "memakan"). Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut histologi. Esofagus dibagi menjadi tiga bagian:
§  bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)
§  bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)
§  bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus).



D. Lambung
images3.jpg
Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai.
Terdiri dari 3 bagian yaitu :
            1.
Kardia 
kardiak.jpg
Merupakan bagian yang berbatasan dengan esophagus. yang menerima makanan dari kerongkongan, fundus adalah bahwa bagian lambung  yang dibentuk oleh besar kelengkungan.
2.Fundus
fundus.jpg
 Fundus adalah bagian atas rahim. Pada 12 minggu kehamilan, fundus berada di atas tulang kemaluan (simfisis pubis). Pada kira-kira 20 minggu, fundus telah mencapai pusar (umbilikus). Setelah minggu ke-20, tinggi fundus (diukur dari atas tulang kemaluan) adalah sama dengan jumlah minggu kehamilan. Sebagai contoh, pada 25 minggu, fundus akan menjadi sekitar 25cm di atas tulang kemaluan.
            3.Antrum
antrum.jpg
Antrum adalah suatu istilah umum untuk ruang atau ruangan yg memiliki arti spesifik pada bagian2 organ tertentu dalam tubuh.
Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :
• Lendir
Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung.
• Asam klorida (HCl)
Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.
• Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)




E. Usus halus (usus kecil)


usus halus.jpg
 





Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Lapisan usus halus terdiri dari:
1.      lapisan mukosa ( sebelah dalam )
2.       lapisan otot melingkar ( M sirkuler )
3.      lapisan otot memanjang ( M Longitidinal )
4.      lapisan serosa ( Sebelah Luar )
            Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu
1.      Usus dua belas jari (duodenum)
2.      Usus kosong (jejunum)
3.      Usus penyerapan (ileum).

1)      Usus dua belas jari (Duodenum)
12 jari.jpg

Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.
Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang berarti dua belas jari.
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.
2)      Usus Kosong (jejenum)
usus kosong.jpg
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.
Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar Brunner.
Secara hitologis pula dapat dibedakan dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan secara makroskopis.Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti "lapar" dalam bahasa Inggris modern. Arti aslinya berasal dari bahasa Laton, jejunus, yang berarti "kosong".

3)      Usus Penyerapan (illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.

F. Usus Besar (Kolon)
usus besar.jpg
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.
Usus besar terdiri dari :
• Kolon asendens (kanan)
• Kolon transversum
• Kolon desendens (kiri)
• Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus.
Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.
G. Usus Buntu (sekum)
usus buntu.jpg
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, "buta") dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.

H. Umbai Cacing (Appendix)
umbai cacing.jpg
rectum2.jpgUmbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen).
Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang menyambung dengan caecum.
Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari 2 sampai 20 cm.
Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing bisa berbeda - bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum.
Banyak orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial (sisihan), sebagian yang lain percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem limfatik.
Operasi membuang umbai cacing dikenal sebagai appendektomi.

I. Rektum dan anus
rectum2.jpg
Rektum (Bahasa Latin: regere, "meluruskan, mengatur") adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens.
Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB).
Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi.
 Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.
Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus.
Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar - BAB), yang merupakan fungsi utama anus.
J. Pankreas
pankreas2.jpg 




Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari).
Pankraes terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu :
• Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan
• Pulau pankreas, menghasilkan hormon

Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.







2.2 Adaptasi Sistem Gastrointestinal Bayi Baru Lahir Dan Feeding Setelah Kelahiran
A.    Adaptasi Sistem Gastrointestinal
Bayi Baru Lahir (BBL, newborns) harus memulai untuk memasukkan, mencernadan mengabsrobsi makanan setelah lahir, sebagaimana plasenta telah melakukan fungsi ini (Gorrie, et al., 1998).Saat lahir kapasitas lambung BBL sekitar 6 ml/kg BB, atau rata-rata sekitar 50-60 cc, tetapi segera bertambah sampai sekitar 90 ml selama beberapa hari pertama
kehidupan. Lambung akan kosong dalam 3 jam (Olds, et al., 1980) untuk pemasukan makanan dan kosong sempurna dalam 2 sampai 4 jam. (Gorrie, et al., 1998).
Spingter cardiac antara esophagus dan lambung pada neonatus masih immatur(Olds, et al., 1980), mengalami relaksasi sehingga dapat menyebabkan regurgitasi  makanan segera setelah diberikan (Gorrie,et al., 1998). Regurgitasi juga dapat terjadikarena kontrol persarafan pada lambung belum sempurna (Olds, et al., 1980). BBL mempunyai usus yang lebih panjang dalam ukurannya terhadap besar bayi dan jika dibandingkan dengan orang dewasa.
Keadaan ini menyebabkan area permukaan untuk absorbsi lebih luas (Gorrie,etal.,1998).Bising usus pada keadaan normaldapat didengar pada 4 kuadran abdomen dalam jam pertama setelah lahir akibat bayimenelan udara saat menangis dan sistem saraf simpatis merangsang peristaltik (Simpson & Creehan, 2001).
Saat lahir saluran cerna steril. Sekalibayi terpapar dengan lingkungan luar dan cairan mulai masuk, bakteri masuk ke saluran cerna. Flora normal usus akan terbentuk dalam beberapa hari pertamakehidupan (Gorrie, et al., 1998) sehingga meskipun saluran cerna steril saat lahir, pada kebanyakan bayi bakteri dapat dikultur dalam 5 jam setelah lahir.
 Bakteri ini penting untuk pencernaan dan untuk sintesa vitamin K (Olds, et al., 1980). Enzim-enzim penting untuk mencerna karbohidrat, protein, dan lemak sederhanaada pada minggu ke-36-38 usia gestasi. Bayi baru lahir cukup bila mampu menelan, mencerna, memetabolisme dan mengabsorbsi protein dan karbohidrat sederhana serta mengemulsi lemak (Jensen   et al., 2004). Amilase pankreas mengalamidefisiensi selama 3-6 bulan pertama setelah lahir. Sebagai akibat, BBL tidak bisamencerna jenis karbohidrat yang kompleks seperti yang terdapat pada sereal.
 Selain itu BBL juga mengalami defisiensi lipase pankreas. Lemak yang ada di dalam Asi lebih bisa dicerna dan lebih sesuai untuk bayi dari pada lemak yang terdapat padasusu formula ( Gorrie, et al., 1998). Feses pertama yang dieksresi olehbayi disebut mekonium, berwarna gelap, hitam kehijauan, kental, konsistensinya seperti aspal, lembut, tidak berbau, danlengket.
Mekonium terkumpul dalam usus fetus sepanjang usia gestasi, mengandung partikel-partikel dari cairan amnion seperti sel kulit dan rambut, sel-sel yang terlepas dari saluran cerna,empedu dan sekresi usus yang lain (Gorrie, et al., 1998 & Olds, et al.,1980).
Feses mekonium pertama biasanya keluar dalam 24 jam pertama setelah lahir.Jika tidak keluar dalam 36-48 jam, bayi harus diperiksa patensi anus, bising usus dan distensi abdomen dan dicurigai kemungkinan obstruksi (Gorrie, et al., 1998 & Simpson & Creehan, 2001).
Tipe kedua feses yang dikeluarkan oleh bayi disebut feses transisional, bewarna coklat kehijauan dan konsistensinya lebih lepas dari pada feses mekonium. Feses ini merupakan kombinasi dari mekonium dan feses susu. Keadaan feses selanjutnya sesuai tipe makanan yang didapat oleh bayi (Gorrie, et a., 1980). Tabel berikut menjelaskan karaktertisik penting sistem pencernaan sebelum dan setelah lahir.

Tabel 1. Karakteristik sistem pencernaan sebelum dan setelah kelahiran.
Sebelum lahir                                                                                             
Setelah lahir
ü  gastrointestinal relatif inaktif.Fetus
ü  menelan cairan amnion dan memperlihatkan gerakan mengisap dan menelan dalam uterus.
ü  tidak ada makanan yang diterimamelalui G.I.T.
ü  tidak terjadi pengeluaran feses. Pada keadaan hipoksis atau distres, spingteranal relaksasi dan mekonium terlepas kedalam cairan amnion,mengindikasikan fetal distres.

ü  bayi dapat mengisap dan menelan, mampu mencerna dan mengeliminasi Asi dan susu formula.
ü   bayi mudah menelan udara selama makan dan menangis.
ü  peristaltik aktif pada bagian abdomen yang lebih bawah karena bayi harus mengeluarkan feses. Tidak adanya feses
ü  dalam 48 jam pertama mengindikasikan obstruksi isi usus.


B.     Feeding Setelah Kelahiran
Feeding (pemberian makanan)pertama jika memungkinkan diberikan saatmelakukan pengkajian pada BBL. Perawat  mengobservasi tanda-tanda yang dapatmenggambarkan keadaan hubungan antara trakhea dan esophagus seperti ada tidaknya batuk, keadaan seperti tercekik dan sianosis.
Selain pernafasan, mengisap dan menelan merupakan pengalaman tambahan baru setelah kelahiran. BBL biasanya mampu mengisap, menelan dan mengkoordinasi pernafasannya.
Setelah lahir, BBL mengalami perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam beberapa fase yang tidak stabil. Selama jam-jam pertama BBL terus mengalami perubahan, dikenal dengan periode reactivity. Pengetahuan tentang periode ini membantu mendukung attachment orang tua-bayi dan pemberian feeding.Terdapat dua periode reactivity yangdiselingi dengan periode tidur.
 Periode pertama reactivity dimulai setelah lahir.BBL berada dalam keadaan diam, bangun dan terjaga. Matanya dibuka dan waspada,berespons terhadap rangsangan,menggerakgerakkan tangan dan kaki dengan energik, berusaha mencari dan tampak lapar. Fase ini akan diikuti dengan dengan fase aktifsiaga.
Selama fase aktif-siaga BBL akan memperlihatkan refleks isap yang kuat dan tampak lapar. Ini merupakan waktu yang sangat ideal untuk menyusui pertama. Setelah 30 menit bayi akan mengantuk, tidur dan akhirnya masuk periode tidur terlelap sekitar 2 sampai 4 jam. Selama waktu ini bayi tidak berespons, nadi dan respirasi turun pada nilai normal namun
suhu mungkin rendah. Ketika BBL terbangun dari periode tidur, mereka masuk periode kedua reaktivity.
 Periode ini dapat berlangsung 4 sampai 6 jam. BBL bangun, siaga dan dapat menangis. BBL menjadi berkeinginan terhadap makanan, memperlihatkan aktivitas seperti mencari puting, mengisap dan menelan dan kelihatan lapar. Feeding mungkin dapat dimulai jika ia belum dimulai pada periode awal reactivity. Mekonium mungkin keluar selama periode ini. Sekresi mukus meningkat dan BBL dapat mengalami gag atau regurgitasi (Gorrie, et al., 1998 & Burroughs & Leifer, 2001).
Pada beberapa fasilitas, bayi diberikan cairan (air) steril dalam jumlah sedikit sebelum diberikan feeding formulam pertama. Fasilitas yang lain memberikan asi atau susu formula untuk semua feeding. Feeding pertama tidak lebih dari 1 ons untuk mengurangi regurgitasi karena overdistensi abdomen. Beberapa bayi dapat mengalami cekukan atau gag selama feeding permulaan dan sebagian yang lain dapat mengalami kebiruan atau sianosis karena terjadi apnea saat pemberian feeding.
Pada keadaan ini perawat menghentikan sementara pemberian makanan, disuction jika perlu dan bayi dirangsang agar menangis dengan menggosok-gosok bagian belakang badannya. Banyak BBL yang belajar mengkoordinasikan isapan, menelan dan bernafas saat feeding pertama (Gorrie et al., 1998)
            Feeding menyebabkanBBLmempunyai stool. Peristaltik menjadi cepat dan meningkat dengan pemberian makanan. Reflek gastrokolik dapat terangsang saat lambung terisi, menyebabkan peningkatan peristaltik usus. Bayi akan mengeluarkan feses selama atau setelah pemberian makanan. Feses mekonium juga dapat keluar ketika dilakukan pengukuran suhu rektal. Meskipun pemeriksaan suhu rektal tidak direkomendasikan, termometer dapat
dimasukkan dengan hati-hati ke dalam rektum untuk mengetahui patensi anus dan merangsang pengeluaran feses mekonium (Gorrie et al., 1998).
Keterlambatan feeding menyebabkan stasis usus sehingga isi usus yang mengandung mekonium lama dikeluarkan. Mekonium merupakan penyimpan bilirubib dalam jumlah yang sangat besar dan ini dapat diabsrobsi kembali ke dalam sirkulasi jika tertunda dieliminasi. Kegagalan dalam membersihkan mekonium dengan cepat mempertinggi reabsrobsi usus dan
meningkatkan bilirubin serum (Simpson & Creehan, 2001).
 Hal ini dapat terjadi karenabilirubin direct yang ada dalam mekonium dikonversi ulang oleh enzim beta glukoronidase menjadi bilirubin indirect, diabsrobsi oleh dinding usus dan masuk kembali ke sirkulasi enterohepatik.
 Efek proses ini adalah joundice pada BBL
(Melson et al., 1999). Rutinitas beberapa rumah sakit dalam pola pemberian feeding pada BBL berkontribusi terhadap tingginya level bilirubin. Sistem yang tidak mendukung
rooming in mengurangi jumlah pemberian feeding seperti penjadwalan pemberian
feeding (Simpson & Creehan, 2001). Menyusui dini yang efisien berkorelasi
dengan penurunan kadar bilirubin darah. Kadar protein yang tinggi di dalam kolostrum mempermudah ikatan bilirubin dan kerja laksatif kolostrum untuk perjalanan mekonium (bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004).
Skema berikut menggambarkan hubungan antara feeding setelah kelahiran dengan pengeluaran mekonium dan level bilirubin indirect dalam serum setelah kelahiran.








C.Hubungan feeding setelah kelahiran dengan penurunan level bilirubin setelah kelahiran














Text Box: Peningkatan peristaltik usus



Text Box: Ekskresi mekonium:
waktu & jumlah

Text Box: Feeding segera setelah kelahiran




Text Box: Ekskresi mekonium:
waktu & jumlah








 


                                                                                                                                                       













Text Box: Penurunan bilirubin Indirec

 







x

BAB 3















PENUTUP

3.1       Simpulan
Dengan terselesaikannya makalah ini kelompok kami menyimpulkan bahwa terlahirnya individu baru sangatlah membutuhkan perawatan dari orang lain.dan individu baru tersebut  pasti mengalami suatu adaptasi,oleh karena itu adaptasi neonatal merupakan proses penyesuaian fungsional neonataus dari kehidupan di dalam uterus ke kehidupan di luar uterus.apabila terdapat suatu gangguan pada adaptasi maka akan mengakibatkan bayi akan sakit.hal tersebut terjadi karena ada gangguan pada Homeostasis yang meliputi terganggunya fungsi-fungsi vital yang dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya.

3.2       Saran
Dengan adanya adaptasi Bayi Baru lahir terjadilah perubahan-perubahan pada bayi, oleh karena itu pada proses adaptasi perlunya penambahan pengetahuan perawatan bayi baru lahir bagi para ibu.terutama pada seorang wanita yang pertama kali menjadi seorang ibu.
Untuk itu kelompok kami sangat mengharapkan saran dan kritik dalam pembuatan makalah ini, dan sebagai reverensi dalam pembuatan makalah selanjutnya.karena sedikitnya kesalahan dapat mengurangi nilai kesempurnaan. 
















DAFTAR PUSTAKA

Burroughs A & Leifer G. (2001). Maternity Nursing an Introductory Text. 8 th
edition.
Gorrie T.M., McKinney E.S., & Murray S.S. (1998). 2nd edition. Foundation of Maternal–Newborn Nursing.Philadelphia. W.B. Saunders Company.
Hastono, S.P. (2001). Modul Analisa Data.Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Melson A. Katrryn et al., (1999). Maternal-Infant Care Planning. Pennsylvania, Springhouse Cooporation.Philadelphia. W.B. Saunders Company.
Simpson R.K. & Creehan A.P. (2001).Perinatologi Nursing. Lippincott,Philadelphia.
Thomson, E. (1995). Introduction to Maternity and Pediatric Nursing 2nd edition. WB. Saunders. USA.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar